Search

Rabu, 05 Desember 2012

AKU

AKU hanyalah manusia biasa yang tak luput dari dosa. AKU perempuan yang lemah yang mudah menangis disaat AKU tidak bisa lagi berbuat apa-apa, yang AKU lakukan hanya dapat meminta dan meminta kepada Sang Pencipta. Mungkin AKU juga kadang tak sadar bahwa Tuhan selalu ada disisiku, menemaniku, dan menyayangiku lebih dari apapun. Tapi kenapa AKU kadang lupa akan keawajiban sebagai seorang muslim. Manusia seperti AKU memang tidaklah bahkan sangat tidak sempurna. AKU bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk hidup. AKU tahu, Tuhan Maha Mengetahui, Maha Melihat dan Maha segala-galanya. Hanya kepada-Nya AKU meminta agar orang-orang yang ada disekelilingku dilindungi, disayangi, dan diberikan jalan yang terbaik. Terutama untuk orang yang AKU cintai, aku hanya bisa menjaganya disaat AKU sedang bersamanya, AKU bukan Tuhan yang bisa melihat setiap detik, menit, jam, ataupun hari bahkan bulan dan tahun. Untuk itulah AKU selalu meminta dan meminta "Tolong jaga dia, berikan yang terbaik untuknya dan lindungi hatinya". Hanya itulah yang dapat aku lakukan setiap hari. AKU berharap, semua yang AKU lakukan bisa membahagiakan orang yang ada disekelilingku terutama orang tua yang selalu ada untukku, yang menjagaku dan mengasuhku hingga AKU dewasa. AKU ingin menjadi orang yang bermanfaat untukmu dan untuk semua orang. :)

Kamis, 01 November 2012

Mengisi waktu dari pada nganggur


Assalamualaikum..

Siang2 gini dari pada nganggur mending cerita2 sedikit tentang diriku yukk. :)
Ehmm.. Namaku PITARINI HARJU HUTAMI, kalau disekolah aku biasanya dipanggil Pita tapi kalu dirumah beda lagi sering dipanggil Ita atau pun sagil tapi kalau yang ini biasanya hanya orang2 yang tau asal usul nama itu yg manggil nama Sagil termasuk kakakku sendiri. Aku sekarang sekolah di SMA Negeri 4 Probolinggo dan aku sudah kelas XI di jurusan IPA yang tepatnya di kelas XI IPA 1(ENSTEIN). 
Di masa2 SMA ini aku sudah belajar banyak hal, mulai dari kedewasaan, percintaan dan banyak hal lagi deh. Kalau masalah percintaan bisa dibilang rumit sih, ya maklum lah anak ababil gitu gak asik kalau gak ada kata galau. Hehehe
Kenapa di bilang rumit? Ya pokoknya rumit deh, tapi sekarang aku sudah punya pacar.
Dia juga satu sekolah denganku, awal mulanya sih dari kita pertama kenal dikelas X dan kita juga satu kelas. Kalau masalah siapa yg duluan suka, aku gak tau ya tapi katanya sih dia duluan sejak bulan oktober. Tapi aku aja gak tau kapan aku suka ke dia, itu semua muncul secara tiba2. Tapi meskipun kita jadiannya pas kelas XI tapi sebenernya udah sama2 suka pas kelas X loh, dan aku juga tau kalu dia emang  sebenernya udah suka sama aku mulai dulu tapi akunya aja yang sok2 gak tau., maklum lah cewek kan suka gengsi. Tapi selain itu ada hal yang lain kenapa kita gak jadian pas kelas X karena aku masih terjebak sama mantanku yang dulu dan juga ada kakak kelas yang lagi deketin aku. Tapi sekarang alhamdulillah semuanya benar2 terjadi, dan aku sangat beruntung karna bisa menjadi ceweknya dan aku berharap semuanya bisa baik2 saja. Selain orang tua yang jadi motivasiku dalam belajar, cowokku ya juga harus ikut dong malahan dari cowokku lah yang pling besar dalam motivasiku belajar. Karna dia sudah mengajariku banyak hal dengan kesabarannya meskipun aku yang sering ngambek sih dan ini suatu perkataan yang paling jujur dalam hati. :D
Tapi alasanku ngambek bukan hanya karna semata2 aku ngambek, tapi aku sedikit menguji seberapa besar dia sabar jika mengetahui sifatku yang seperti itu. Tapi yang bikin bingung kenapa dia gak pernah marah ya sampek aku heran dia itu manusia atau malaikat sih sampek2 disuruh marah aja gak mau.-_-
            Selain masalah percintaan aku juga bingung dengan teman2ku yang sekarang, mungkin karna anak IPA jadi mereka selalu sibuk sendiri dengan kegiatan mereka masing2, tapi gak gitu juga kali gak ada solidaritas dengan teman sampek2 minta ajarin aja gak mau atau emang mereka takut tersaingi? mungkin.  Padahal orang2 seperti itulah yang perlu bantuan dari teman2 yang pintar dan termasuk aku yang sangat membutuhkan itu. Tapi ya mau gimana lagi, itu sudah menjadi prinsip mereka dan beruntungnya aku tidak mempunyai atau berfikiran tentang prinsip yang seperti itu dan yang paling penting aku gak mau kayak gitu. Karna meskipun anak IPA aku mempunyai jiwa IPS, ceileh. --"
            Tapi gak apa2 sih meskipun anak IPA hitung2 saling melengkapi dengan cowokku yang anak IPS. Dan juga katanya kakakku emang lebih enak kalau pacaran dengan yang berbeda jurusan. Dasar kakak yang aneh ya, bisa bilang seperti itu!!

Udahan dulu wes, waktunya sholat dan tidur. Kapan2 dilanjutin lagi, itupun kalau ada waktu luang. Hehe
See you.. J



Rabu, 31 Oktober 2012

CERPEN


Permata Hatiku
Orangtuaku bukanlah termasuk keluarga berada. Namun keluarga yang serba pas-pasan. Hanya pas untuk makan dan pas untuk mencukupi kehidupan sehari-hari, tidak lebih dari itu. Ibuku seorang pekerja keras, siang dan malam selalu bekerja dan bekerja karena ibuku satu-satunya tulang punggung keluarga. Pukul empat pagi harus sudah bangun untuk membuatkan sarapan anak-anak setelah itu harus mengayuh sepedanya untuk berjualan di pasar. Sepulang dari pasar ibuku harus pergi ke kebun untuk menanam dan merawat tanaman obat-obatan, malam harinya harus mengirat bambu untuk dibuat anyaman sampai larut tengah malam itulah rutinitas pekerjaan ibuku.
Pagi itu sudah menujukkan pukul lima terdengan suara ibu memanggilku,
“Tik ........ Tutik bangun sudah pagi.“
“Ya, Bu.......” jawabku. Aku lihat ibu sudah memasak di dapur. Aku langsung ke kamar mandi terus sholat subuh, selesai sholat aku membantu ibu di dapur.
“Tik..... ibu berangkat ke pasar.”
“Ya, Bu.”
“Nanti kalau berangkat sekolah sarapan dulu, uang sakunya ibu taruh dimeja. Jangan lupa kunci pintu,” baik Bu.
Aku berangkat ke sekolah setelah selesai mengerjakan tugasku di rumah. Karena harus bantu-bantu ibu dulu sehingga setiap aku berangkat sekolah, aku sudah ditinggal oleh teman-temanku. Aku berangkat sendirian, sambil jalan setengah berlari agar aku tidak terlambat di sekolah. Bahkan aku sering dipanggil ke kantor karena sering terlambat bayar uang sekolah. Maklumlah karena ibuku hanya jualan di pasar sedangkkan saudaraku banyak.
“Lho...... Bu.“ Sudah pulang dari pasar?
“Ya, Tik! Alhamdulillah pasarnya ramai, dagangan ibu laris. Uangnya bisa untuk bayar SPP-mu.”
“Makasih, Bu...”
“Kakak-kakakmu mana, Tik?”
“ itu ada didalam, baru datang dari sekolah.”
“Ya, sudah.” Kakakmu Totok suruh cepat cari rumput, sudah sore nanti keburu hujan. Kakakmu Dodik suruh membersihkan kandang kerbau. Ibu mau ke kebun.
“kamu cuci baju ibu ya Tik!” baik, Bu.
Begitulah keluargaku, ibuku selalu memberi tanggungjawab pekerjaan kepada saudara-saudaraku tanpa kecuali.
Ayahku sudah lama meninggal. Dulu ayahku sebagai sekretaris desa, ayahku sangat mendambakan anak perempuan walaupun putranya sudah enam. Suatu saat ibuku mengandung lagi. Dan setelah lahir ternyata bayinya perempuan. Ayahku sangat bahagia karena harapannya terkabulkan. Akulah satu-satunya anak perempuan dari tujuh bersaudara. Kata ibuku, “Ayahku sangat sayang dan perhatian padaku, sampai-sampai baju-bajuku ayahku yang mencucinya. Kebahagiaan ayah untuk menimang anak perempuan tidak lama karena ayahku keburu dipanggil oleh yang Kuasa. Jadilah aku anak yatim yang tidak pernah lagi mendapatkan kasih sayang ayah.
Sekarang aku duduk di bangku kelas tujuh. Setiap pagi kukayuh sepedaku ke sekolah yang jaraknya kira-kira lima kilometer. Aku tidak malu dengan teman-temanku walau temanku banyak yang berangkat ke sekolah naik angkot, bahkan banyak yang diantaroleh ayahnya. Seandainya aku masih punya ayah mungkin keadaanku akan berbeda. Ibuku tidak harus sendirian bekerja keras siang dan malam untuk menghidupi keluarga.
Sepulang sekolah aku selalu membantu ibuku di rumah. Jika hari libur aku membantu berjualan di pasar. Sore harinya aku harus mengayuh sepedaku yang berjarak kira-kira empat kilo untuk membeli barang-barang yang bisa dijual ibu di pasar. Malam harinya aku harus membantu ibu mengupas singkong dari hasil kebunnya. Untuk dibuat tape yang bisa dijual di pasar. Aku sungguh tidak tega melihat ibu bekerja sendirian.
“siang-siang begini ibu mau kemana?” tanyaku.
“mau ke rumah bulekmu.”
“ada apa ibu pergi kerumah bulek?”
“kakakmu butuh uang untuk bayar kuliah. Sebentar lagi katanya ujian skripsi, tapi ibu belum punya uang. Makanya ibu mau pinjam uang ke bulekmu. Siapa tau buluk bisa bantu.”
“ibu pergi ke rumah bulek dengan siapa?”
“ibu minta antar kakakmu Totok.”
“Kamu jaga rumah ya Tik.” Kata kak Totok.
“Ya Kak, hati-hati bonceng ibu,”
“Ya Kakak berangkat.”
            Wah, aku lupa kalau tadi belum makan. Perutku terasa keroncongan. Makan ah......! aku ambil piring dirak, lalu ambil nasi, selesai makan kucuci sekalian piringnya, terus kutaruh dirak piring. Tidak sengaja tanganku menyenggol gelas. Gelasnya jatu. Pyarrrr....! bunyi gelas tadi pecah berkeping-keping, aku sangat terkejut. Menurut cerita orang-orang kalau ada benda yang jatuh dalam rumah, itu suatu firasat bahwa akan terjadi sesuatu yang buruk. Aku jadi gemetaran, perasaanku tidak enak, mudah-mudahan tidak ada kejadian apa-apa.
“Sudah sore ibu kok belum datang ya?”
“Tik, Tutik.....!” ada suara orang memanggilku, siapa ya.....”
“Tik, buka pintunya, Ya... sebentar.
Kulihat banyak orang didepan rumahku, ada apa ya? Aku jadi penasaran. Jangan-jangan......
Aku lihat ada orang dibopong di depan rumah.
“masa Allah ada apa ini?”
 “Ibu, jawab kak Totok.
“Ibu kenapa?”
“ibu jatuh dari sepeda, dan sekarang tidak bisa jalan.”
Kalau begitu cepat kak bawa kedalam, ya dan cepat panggilkan tukang pijat.
            Sudah satu minggu ibu terbaring dikamar, ibu tidak bisa bangun karena badannya tidak bisa digerakkan. Aku sangat terpukul ternyata ibu mengalami kelumpuhan akibat terjatuh dari sepeda beberapa waktu yang lalu, aku  dan kakak-kakakku berusaha keras agara ibuku bisa sembuh kembali karena ibuku satu-satunya tulang punggung keluarga. Allhamdulillah dalam waktu satu bulan ibuku berangsur-angsur sembuh. Ibuku ddapat berjalan kembali. Allah Maha Pengasih, terima kasih Ya Allah.
Aku harus pandai membagi waktu untuk sekolah, belajar, dan membantu orang tua. Waktu belajarku sangatlah terbatas. Aku hanya dapat belajar pada malam hari, itupun keadaanku sudah sangat capek. Namun ibuku wanita yang sangat tabah, ulet, dan bijak. Biarpun saudaraku banyak, ibu punya prinsip pendidikan anaklah nomor satu. Semua anaknya harus sekolah dan harus berpendidikan. Ibu tidak bisa mewariskan harta, hanya bisa mewariskan ilmu kepada putra-putrinya demi untuk masa depan. Kakak-kakakku sekarang sudah menjadi sarjana. Akupun juga sudah jadi sarjana. Aku bangga dengan ibuku.

Karya : SUTAMI S.Pd